Skenario ALLAH
Tik...tik...tik
rintik air hujan membasahi jendela kamar atas Pelangi, Pelangi Reyn Kelana.
Sambil mendengarkan gemercik air di balik jendela kamar, gadis 14 tahun yang
berambut hitam panjang dan berkulit sawo matang menatap lekat posenya dalam
photo berukuran poster itu, dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Suara
riang yang ceria. Dugaanya tak salah. Penpal alias sahabat penanya TyaraP
maksudnya Tyara Priciladyana lebih akrab di panggil Tyara.
“Assalamu’alaikum,
pelangi..pelangi..” mengetuk pintu kamar Pelangi.
“Wa’alaikum Salam..masuk ra?”
“ Gimana la dah selesai PR Bahasa Indonesia membuat cerpen?”
“Belum nih krang beberapa.. kamu
udah?”
“Udah dong..Tyara gitu?”
“Hmmm..sombongnya, temanya apa dan
isinya tentang apa?”
“ Temanya “Penulis
Hebat” isinya tentang penulis cerpen yang selalu berusaha untuk menerbitkan
cerpenya namun selalu gagal, hingga endingnya 60 tahun lamanya cerpen yang di
buat berhasil dan mendapat awards atas karya cerpen terbaiknya maka aku kasih
tema Penulis Hebat.”
“ Subhanallah...It’s good ra..!”
“ Iya donk
Tyara?”
“Terinspirasi
dari mana kamu buat cerpen itu ra?”
“Udah kaya
detektif aja kamu la ... yya aku mikir sendiri dong? Inspirasi dari Lagu Lelaki Terhebat..He.he”
“He..he ..he..
apa maksudnya Lelaki Terhebat sama Penulis Hebat?”
“Ya kamu tahulah
aku hobi nyanyi, jadi inspirasi ku pasti dari lyric lagu”
“Ya ya ya.. Harapan
utama kamu apa dong?”
“Sudah pasti
sekolah di University of Birmingham dan aku ingin lihat Royal College of Music
disana? Seperti anaknya Erwin Gutawa itu.”
“Hmm.. sukses
deh buat harapanmu.”
“Amin.. terima
kasih”
Senja
sore memeluk erat tubuh seakan
membelenggu di kala sayuk adzan berkumandang. Bagi gadis 14 tahun, sampai saat
ini dia merasa belum mampu membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuanya
dengan prestasi, yang sering hanya malas-malasan dan ia mengatakan “mulai detik
ini dan hari ini minimal lebih baik dari hari kemarin, ia bertekad untuk
mewujudkan apa yang dia harapkan untuk membaggakan orang tua tentunya merantas
hidup yang lebih baik.” Dia memang sudah
lama memendam impiannya untuk jadi Penulis Cerita/Novel yang hebat. Dia
berfikir menjadi penulis hebat bisa di kenal banyak orang dari hasil karyanya.
Jika nanti suatu saat impianya tercapai. Ia ingin menjadi penulis hebat yang
terkenal dan jika karyanya di hargai oleh banyak orang otomatis membaggakan
pada dirinya dan orang tuanya. Baginya, seorang penulis di pandangnya sebagai
sosok yang cerdas dan berwawasan luas. Banyak saran dari sahabat dan orang
tuanya di antaranya: Ibunya selalu mengatakan setiap selesai shalat“semua tidak
ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan berdo’a insyaallah atas
kehendak ALLAH semua akan tercapai itulah kunci kebehasilan karena semua milik
ALLAH dan atas izin ALLAH.” Tyara sahabatnya juga sudah sering mengatakan
“Bagus kalo kamu punya impian menjadi seorang penulis yang hebat tapi, ada satu
hal yang harus di ingat selalu semangat dan terus belajar sungguh-sungguh ngak cuma
yang di pikirin cowok dan cowok, ingat cowok adalak momok bagi impian kita. Aku
yaki kamu pasti bisa!”
Memang
benar kata ibu dan sahabatnya, kunci kesuksesan selalu berusaha dan berdo’a. Namun untuk saat ini pikiranya tidak bisa
lepas dari cowok yang sekarang dekat dengan dia. Dia pun sadar bahwa cowok 60%
jadi beban dan pikiran 40% motivasi dan penyemangat.
* * *
Kring ..kring itu sudah pasti bunyi
bel sepeda my penpal Tyara yang setiap hari memberi semangat mentari untuk
berangkat sekolah untuk belajar menggapai prestasi. Kami belajar dengan penuh
semangat di kelas IX-D. Akhirnya bel berbunyi tanda pulang sekolah. Seusai
pulang sekolah Tyara langsung menuju kerumahku untuk mengerjakan tugas diskusi.
“Huh..capeknya?” keluh Tyara
“Mmm ..iya.” sahut Pelangi
“La, esok kalo udah gede kamu ingin jadi
apa?”
“Mmm..perasaan kamu sudah sering
menanyakan ini kepadaku?” Heran
“Iya, memang...tapi kamu selalu jawab
dengan candaan engak serius.”
“Ok..ok.. aku serius sekarang. Aku ingin jadi
segalanya terutama jadi penulis hebat dan smart, karna diam-diam terinspirasi
oleh guru favorit di sekolah dia smart, banyak cerita, suka membaca,
pengetahuanya luas the best dech. Gak
hanya dia sih favoritku tapi, banyak tokoh dalam dan luar negeri yang aku
kagumi berkat karya-karya yang di hasilkan...”
“Huhh,, capek denger ceritamu la, udah 2 jam lamanya
kamu ngoceh sana sini sampai kita tidak jadi diskusi hari ini.”
“Ma’af ma’af..besok pulang sekolah kita diskusi. Aku
janji!”
* * *
Mentari terbenam temani dalam
kesendirian, temani dalam kepedihan yang memberi semangat untuk jiwa. Di dalam
kamar mungilku yang sesak akan
ornamen-ornamen ngak jelas dan foto berpose di dinding kamarku. Aku merenungkan
impian dan asa ku di masa depan. Di depan selembar kertas putih aku menuliskan
suatu ungkapan ekspresi dengan tinta harapan bahwa aku bermimpi dan
menggapainya, a little knowledge that
acts is worth infinitely more than much knowledge that is idle makna
sedikit pengetahuan yang bertindak jauh lebih berharga daripada banyak
pengetahuan tetapi tanpa tindakan, Sang Maskot Ilmuan Modern Albert Einstein
mengatakan "Aku tidak punya bakat khusus, aku hanya orang yang penasaran.”
kata bijak Albert Einstein : sudah
saatnya cita-cita kesuksesan di ganti cita-cita pengabdian, ilmu pengetahuan
tanpa agama=buta, agama tanpa ilmu pengetahuan=lumpuh. Bagiku semua itu
merupakan motivasi untuk meraih impian dan asa dan hasilnya adalah ketentuan
ALLAH.
* * *
Malam bergulir menjadi pagi seolah
sisa dinginya malam lenyap berganti hangat tersiram sinar mentari pagi. Seperti
biasanya Pelangi lekas mandi kemudian berangkat sekolah bersama sahabat
karibnya Tyara.Lama pelajaran, bel istirahat pun berbunyi, Pelangi dan Tyara segera menuju ke kantin kemudian duduk di
taman dekat kantin.
“Nyam..nyam enaknya?” sahut Tyara
“Iya ra.”jawab Pelangi
“Gimana hubunganmu dengan Dino la...”
tanya Tyara penasaran
“Yya begitulah, aku saat ini ngak ingin cerita
tentang dia. Aku ingin fokus kelas IX ini ra, aku ingin mengejar cita dan
harapanku karna perjalanan masih panjang. Lagian ini kan mau UN dan minggu
depan aku mendapat tugas untuk menulis cerpen untuk lomba tingkat Provinsi jika
berhasil aku lanjut ke tingkat Nasional, aku ingin lepas beban penat tentang
dia.” jawab Pelangi serius
“Mmmm..baguslah kalo kamu berfikir dewasa seperti
ini dan ingat jika kamu percaya pada dirimu, tidak ada yang dapat
menghentikanmu untuk mencapi apa yang kamu inginkan, percaya itu?” balas Tyara
Dino El-Rayhan adalah kekasih
Pelangi dia sudah menjalin hubungan 1 tahun lamanya, sejak Dino kelas IX-D dan
Pelangi kelas VIII-D. Sebenarnya cowok yang dekat dengan Pelangi tidak Dino
saja antaranya Adit Prayoga, Trisna Wisnu, Kharisma Dana dan banyak lagi. Namun, bagi Pelangi cowok
yang mampu membuat hatinya lumpuh dan cowok yang smart hanyalah Dino seorang.
Itulah alasan Pelangi mengapa memilih Dino daripada yang lain.
*
* *
Malam
bergulir begitu cepat begitupun waktu. Waktu terus berputar. Setelah melewati
UN bulan kemarin, hasilnya pun keluar dan Alhamdulillah
Pelangi mendapat hasil yang sempurna begitupun dengan sahabatnya Tyara. Sehingga
Pelangi dan Tyara di terima di sekolah favoritnya SMAN 1 Islamiyah. Mereka
selalu bersama menjadi sahabat karib tak ada celah yang membatasi antara
keduanya. Mereka saling mengejar impian dan asanya masing-masing dengan
semangat yang semua ketentuan hanya milik ALLAH. Mereka fokus dengan itu dan
tidak memikirkan yang lain termasuk cowok baginya sekarang cowok adalah teman
atau sahabat tidak lebih, itulah kesepakatan yang mereka buat demi impiannya.
“Akulah
Pelangi Reyn Kelana. Sesuai dengan namaku Kelana, aku ingin berkelana mencari
ilmu dan pengetahuan mengelilingi dunia dengan banyak perbedaan yang mampu
menjadi satu. Aku ingin menyalakan motivasiku dan ingin melepaskan seluruh bebanku.
Aku ingin semangat baru untuk jiwaku memberi kicauan menusuk hidupku aku
bertahan aku pasti bisa menikmati semua dan menghadapinya aku yakini aku pasti bisa. Dan aku percaya Skenario ALLAH yang paling indah dan alasan kenapa
seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak
mendefinisikannya, tak mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa
cita-citanya itu dapat dicapai (Dr Denis Waitley, Pakar motivasi dan penulis
buku-buku) itulah motivasiku dan semua ini ku jalani dengan senyuman.”
